Bibidi Babidi Boo!

Bibidi Babidi Boo! turned 3 today!

Bibidi Babidi Boo! turned 3 today!

(Source: assets)

Bahagia itu sederhana.

How you ever heard about ‘bahagia’? Perasaan senang yang nggak tau apa sebabnya atau ada sebabnya dan membuat kamu tidak bisa mengungkapkan banyak kata. Lalu tenang dan ya hanya bisa dirasakan diri sendiri.

Bahagia itu sederhana.

Sama seperti kehadiran Ibu yang bisa menemani mu untuk mendengarkan cerita yang udah basi dan still hear it all over again and tell you ‘that’s okay” and then still hug you

Sama seperti beberapa percakapan yang unexpected dan bener-bener kamu rindukan

Sama seperti adanya makanan yang kamu pengenin dan someone dying to make you happy.

Tapi, bahagia itu bukan materi. Bukan sama sekali.

Kalau kamu menilai bahagia itu asalnya dari materi, kalian salah.

Materi memang bisa beli  segalanya, bisa membahagiakan, tapi ada hal diluar sana yang tidak bisa dinilai harganya.

Apakah kehadiran orangtuamu bisa diukur oleh materi?

Apakah kehadiran teman-temanmu bisa diukur oleh materi?

Apakah kesetiaan bisa diukur oleh materi?

Apakah perasaan bisa dibeli oleh materi?

Bahagia itu sederhana, saat kamu merasakan dibutuhkan, disayang, dicintai, diakui keberadaannya.

Bahagia itu sederhana, saat ada yang selalu berusaha ada disampingmu tanpa pamrih dan tulus merengkuhmu kalau kamu jatuh.

Bahagia itu sederhana, seperti menertawakan kebodohanmu bersama teman-temanmu dan menyadari itu semua salah dan berlalu.

Bahagia itu sederhana, saat membuat semua orang yang kamu cintai bahagia. Bukan dalam versi mu. Mereka bahagia, karena mereka memang merasakannya.

Bahagia itu sederhana.


Starbucks ♡

Starbucks ♡

(Source: stillwantjustyou)

Have you met Miss Jones?

(Source: angelsdarla)

Bridget Jones: The Edge of Reason


“You think you found the right man, but there’s so much wrong with him, and then he finds there’s so much wrong with you, and then it all just falls apart.” - Bridget Jones

(Source: hi--hales)

We live together, doesn’t mean i’m spoilt.

Kamu pernah nggak dalam satu situasi, kita tinggal di rumah sama orang tua kita dan kita dilarang pulang malem dengan berbagai macam alasan. Sering banget kita menggerutu dan marah-marah malah lebih parahnya kita malah memaki dibelakang orang tua kita.

Kalo kamu mengalami kejadian seperti diatas, kita senasib.

Muncul pertanyaan bahwa selama saya tinggal di luar kota (karena saya kuliah di tempat yang berbeda dengan tempat asal saya)

“Kenapa enggak ngekos?”

“Kenapa enggak bawa kendaraan?”

“Kenapa sih enggak naik taksi aja?”

“Kan nggak tinggal sama ortu, jalan jauh yuk?”

Well, it often comes to my ear dan sudah kebal banget sama semua pertanyaan-pertanyaan itu. Selalu terpikir untuk mencoba salah satunya karena tinggal bersama keluarga tidak selamanya enak seenak yang dipikirkan. Makan enak, tidur enak dan segalanya enak itu bohong. Kalau kamu punya manner, dimanapun anda tinggal selain dirumah, hanya rumah tempat terenak yang anda rasa paling nyaman. Kalau pernyataan saya nggak tepat, maafkan ya.

“Kenapa enggak nge-kos?”

Kenapa? Karena, saya masih punya keluarga disini dan ada baiknya tinggal sama saudara dan menyambung silaturahim bersama keluarga. Selain nyaman dan terjamin, kita juga merasa lebih aman. Selain itu, dengan background keluarga yang overprotective, orangtua serta eyang saya yang di Jakarta melarang keras buat nge-kos. Even I insist them. Alasan demi alasan sudah dikeluarkan demi kenyamanan pribadi tapi akhirnya dipikir bahwa nurut sama orangtua kadang ada baiknya. Nurut aja deh. Selain banyak plusnya, menyenangkan orangtua itu wajib. Even sometimes, it doesnt make us happy.

“Kenapa enggak bawa kendaraan?”

Sounds cheesy. Terlihat manja karena setiap hari terpaksa saya harus naik motor langganan pulang pergi ke kampus setiap hari, dengan jadwal yang menyesuaikan dia dan tidak bawa kendaraan. Saya sanggup bawa kendaraan sendiri. Tapi, sekali lagi, background overprotective yang dianut keluarga membuat saya agak diragukan membawa motor sendiri di sini. Alasannya “rame mbak, awas nanti disalip sama mobil nanti jatuh” Nah. Itu dia, alasan pamungkasnya. Mau bawa mobil alasannya “nanti kalo belum bisa betul mobilnya malah rusak-rusak lho” Selain menambah tanggungan juga kalau harus membawa mobil, kadang menyesuaikan diri dengan motor langganan membuat saya makin menghargai dan memahami orang. Dan, jadi tidak seenaknya.

“Kenapa enggak naik taksi aja?”

Kita semua mahasiswa paham ah. Uang jajan itu nggak cukup kalau buat naik taksi kemana-mana. Apalagi dengan adik 3 orang. Ah. Mahal

Kenapa enggak pulang malam?

Ini sih runtutan dari poin satu, karena terbiasa overprotektif, pergi malam pun jadi suatu hal yang aneh dan tidak wajar bagi saya. “Ngapain pulang malam kalau bisa lebih cepat?” Muncul perasaan insecure yang berlebih kalau harus pulang larut dengan alasan yang tidak jelas. Itu membuat gerak saya agak terbatas. tinggal bersama keluarga tidak lantas membuat saya menjadi anak yang bebas dan liar karena baru dilepas. Saya yakin masing-masing kita punya prinsip dan prinsip untuk tidak keluar malam sering-sering adalah prinsip yang wajar dianut seorang wanita. Seperti kata pepatah jawa “Pamali!”

Well, mungkin ini yang saya bisa share tentang uneg-uneg yang sering sekali saya terima dalam beberapa bulan terakhir ini.

Honestly, it made because we have to know that is not easy to be free when you always hide on your cage and stand still on it.

With Love

Finda